Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sudah 7 tahun lamanya aku mengenal lelaki itu. Rohmat, seorang laiki-laki yang aku kenal semenjak Aku masih berada di bangku Sekolah Menengah Atas. Sekolah yang berbasis Pesantren ini menjadi salah satu sekolah favorit yang peminatnya cukup besar. Ceritaku dimulai sejak awal kita berada di sekolah abu-abu itu. 17 Juli 2012 menjadi awal masuk sekolah bagi kami. Masa Orientasi Siswa atau sering disebut MOS tentu menjadi masa perkenalan bagi kami. MOS tahun-tahun sebelumnya yaitu membuat MOS dua kali dengan memisahkan antara laki-laki dan perempuan. Tetapi untuk pertama kalinya MOS tahun 2012 ini dijadikan satu antara laki-laki dan perempuan.
Entah itu kebetulan atau apalah itu, aku dan dia menjadi satu kelompok MOS. Ketika istirahat berlangsung, dia mulai membuka percapakan denganku. Rohmat menceritakan banyak hal entah mengenai sekolahnya dulu ataupun mengenai keluarganya. Seketika itu akupun mulai enggan untuk jauh mengenalnya. Dari cerita yang aku tangkap, bahwa keluarganya merupakan keluarga yang terpandang di daerahnya. Dia merupakan putra kyai yang sedang menimba ilmu di perantauan.
Ketika MOS telah usai, kami pun menimba ilmu seperti biasa. Komunikasi yang terbatas baik media sosial maupun bertatap muka yang minim membuat kita lupa bahwa dulu pernah saling mengenal. MOS yang hanya 3 hari tentu hanya dianggap sebagai angin lalu.
Setelah satu semester berlalu, teman laki-laki yang satu sekolah menengah mengenalkan aku dengan dia. Temanku bilang kalau ada yang ingin kenal denganku. Orang itu tak lain adalah Rohmat.Kata temenku, Rohmat sering memperhatikan aku. Dia menyukaiku ketika tidak sengaja beberapa kali kita berpapasan. Rohmat menceritakan tentangku kepada temannya. Awalnya dia tidak tahu mengenai aku, namaku saja dia tidak tahu. “Rek, kae bocah wadon sek nganggo tas abang jenenge sapa ya? Nyong pengen kenal karo cah kae..”, Arti dari kalimatnya kurang lebih seperti ini “Cewek yang sering pakai tas merah itu namanya siapa ya? Aku ingin kenal sama dia..”, ucapan yang dia lontarkan kepada temannya. Temannya yang sering dipanggil Ari pun mulai membantu mencari tahu info mengenai aku.
Ketika liburan tiba, Ari memperkenalkan aku dengannya, yang tidak sengaja dulu kita satu kelompok MOS. Ari mempertemukan aku dengan Rohmat. Rohmat mengatakan bahwa dia ingin mengenalku lebih jauh lagi. Seketika itupun aku bingung. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang semestinya aku jawab? Ternyata Rohmat adalah laki-laki yang sering diceritakan oleh temanku. Satu kelas sudah mengetahui semua bahwa Farida menyukai Rohmat. Aku bilang “Aku gak tau harus jawab apa, biar berjalan apa adanya”. Seiring berjalannya waktu dan Rohmat pun terus mendekatiku, membuat aku pun nyaman dan akrab dengannya.
Liburan telah usai, kita kembali pada rutinitas seperti biasa. Entah teman-teman mendapatkan kabar darimana, gosip dengan cepat menyebar. Teman-teman termasuk farida mengetahui bahwa aku dan Rohmat menjadi teman dekat. Seketika itu Farida mengomel dan marah-marah padaku. Mungkin karena Farida sangat menyukai Rohmat, sampai hal yang tidak diinginkan pun terjadi. Sekolah yang terkenal angker pun mulai menjadi-jadi. Penghuni sekolah alias jin penunggu mulai merasuki tubuhnya. Alhasil Farida menjadi salah satu anak yang kesurupan di sekolah.Waktu itu semua rasa bercampur aduk, entah itu bingung, takut dan menggelikan. Jin penunggu sekolah yang merasuki Farida ternyata juga menyukai Rohmat.
Ketika kesurupan jin itu mengatakan bahawa dia menyukai rohmat. Syarat agar dia mau pergi yaitu rohmat harus membersihkan kamar mandi yang berada paling pojok. Nah, lucu kan? Masak jin bisa kayak gitu? Akibat ada kesurupan tersebut, nama Rohmat pun semakin booming.Setelah melakukan prasyarat dari jin tersebut, sudah tidak ada kesurupan-kesurupan lagi. Semua kembali normal seperti biasanya. Hanya saja sikap farida kepada aku menjadi tidak baik. Kita tidak lagi menjadi teman dekat. Dia terus menyalahkanku atas semua keadaan ini. Sering kali dia menyindirku sebagai pelakor. Sampai saat ini dia pun mungkin belum memaafkan aku. Dan pada akhirnya, Rohmat dan Aku memutuskan untuk menikah dan tak memikirkannya lagi.

Komentar
Posting Komentar