PESISIR SENJA
Takdir akan berpihak pada oang yang selalu berusaha mencapai mimpinya. Sekuat apapun orang pasti ia pernah rapuh juga. Dan hanya bisa mengadah dan bersandar pada tangan Tuhan. 15 telah ku lalu. Banten, tempat dimana aku lahir dan dibesarkan oleh kedua orang tuaku. Mendidik ku dalam budi pekertinya. Dan sebuah nama yang dibisikannya dalam sepertiga malamnya. Andri Harata, itulah namaku. Kini aku duduk di kelas 2 SMP disalah satu sekolah dibanten. Saat itu, aku tlah meraih sebagian mimpiku. Ketika aku bisa melukis kebahagian pada orang tua ku. Akhirnya aku bisa meraih mendali dalam kejuaran badminton. Dengan sekor 25-23, sorak berorak terdengar jelas pada gedang suara ku. Serentak, kaki ku tak mampu menompang tubuh hingga aku tersujud dalam air mata bahagai. Bersyukur hanya itu yang terdapat dalam hati dan pikirnnya. Saat itu kedua orang tua ku melihat pertandinganku. Bunda yang sembari melihat kemenangan ku langsung turun dari bangku penonton. Berlari menghampiriku yang masih berdiri di tengah lapangan. Bunda dan Ayah langsung memeluk ku. Ku rasakan tangisan bahagia dari pelapuk mata kedua orang tuaku. Bunda mencium keningku dan berkata,
“ nak, bunda dan Ayah bangga padamu” berbisik ditelingaku bersama isakan
Semua penonton terheru menyaksikannya. Lalu, diikuti sorak dan tangisan tiada duka, hanya saja tangisan kemenangan mereka. Setelah mengurus dan membereskan semuanya aku keluar dari gedung. Satu... dua... tiga langkah,teman- temanku dan guru pendamping memberikan surprise. Tiada perah ku sangka. Sampai dirumah, aku buru- buru mandi. Sehabis mandi ku meletakan mendali itu dalam etalase yang hampir penuh dengan piala dan mendali. Saat aku meletakan, aku berbicara dalam hati
“ semoga aku bisa meraih mu lagi, hingga internasional.” Harapanku yang tak lepas dari doa.
Setelah pertandingan itu, semua kembali normal. Hanya saja latihan badminton diperbanyak agar bisa siap nanti saat pertandingan nasional. Aku tak pernah milah seseorang itu dari mana ia berasal, karena menurutku semua punya HAK dan mimpi untuk memenuhi kewajibannya. Arahan, latihan, motivasi itulah yang setiap hari ku enyam. Berapa minggu sebelum pertandingan dimulai semua harus siap. Dan hanya Tuhan lah yang bisa memberikan segalanya. Semuanya berjalan dengan baik, kurang seminggu lagi pertandingan akan di mulai. Aku sudah mempersiapkannya tinggal doa dan usaha yang ku perkuat. Kedua orang tuaku sudah memberikan restu dan doannya. Tak lupa ku minta restu pada- Nya dalam setiap detik dalam langkahku.
Namun sayang, Tuhan meragukan kesetiaanku pada-Nya. Saat pulang dari latihan, tiba- tiba sepeda montor melaju dengan kecang hingan menabrak montor yang ku kendarai. Apa lagi yang ku rasa tak ku mengerti. Ketika ku bangun kedua orang tuaku tlah berada disampingku. Aku melihat jelas kecemasan dalam binar bola mata bunda. Tersadar bunda langsung memelukku. Mengelus rambutku dan saat itu kurasakan kasih sayang dari orang tuaku.
“ Bunda, Andri ngak papa kok” kata ku yang meyakinkan bunda
“ Benar nak kamu ngak papa” ujar bunda
Aku hanya menganguk dan ku lepaskan senyumku, walaupun aku agak sedikit pusing tapi masih bisa ku tahan. Saat ku ingin mengerakkan kaki ku tapi kenapa semua terasa sakit. Ada apa dengan kakiku. Tuhan tolong aku. Aku memberanikan dirikku untuk bertanya pada Bunda.
“ Bund, kenpa dengan kaki Andri” tanya ku. Bunda masih saja tak berkata tak ingin menjelaskan semuanya.
“ Bunda, Andri ingin tahu sebenarnya yang terjadi. Kenapa kaki Andri sakit bund. Hanya Bunda yang bisa jujur sama Andri “ aku bertanya sekali lagi hingga air mata ini tak bisa ku tampung lagi.
Mendengar tangisanku bunda memeluk dan menjelaskan bahwa kaki ku cedera lutut. Mendengar itu, aku semakin terpuruk dalam kesedihan. Tersudut dan terkunci dalam geruji. Kenapa Tuhan memberikan cobaan yang merengut semua mimpiku?. Apa salahku slama ini?. Kenapa harus aku yang kau uji?. Hatiku sangat terpuruk atas Takdir-Nya. Tinggal satu lagkah lagi aku bisa meraih mimpiku yang bertahun- tahun ku berlatih tuk mecapainya. Kini tlah semua harus pupus begitu saja, gugur tanpa artinya.
Aku mencoba bangkit dari semua ini, kaki ku yang cidera tlah sembuh. Namun aku tak bisa mengikuti pertandingan Badminton lagi sebab kakiku sudah kaku tak bisa seperti dulu. Kini aku telah naik kelas 3 SMP, kini prioritas ku adalah nilai UN. Kadang, terselip kisah satu tahun yang lalu. Karena itu aku harus bangkit kembali, menunjukan sebenarnya siapa aku. Aku selalu mencoba yang terbaik dalam bidang Akademi agar aku tak menyesal nantinya. Setelah UN semua menjadi berubah. Ku rindukan kesibukanku yang dulu, masa- masa yang penuh dengan waktu. Kini, pikiranku melayang jauh. Jauh diatas langit, anganku mulai melukiskan rancangan masa depanku. Aku mulai mengerti arti mimpi. Hingga akhirnya aku putuskan akan melajutkan sekolah di Jogya. Di jogya lah aku melukis segalanya. Dengan kebebasan tapi bertangung jawab.
Diterima salah satu sekolah dijogya adalah hal yang tak mudah. Tapi aku yakin aku bisa menerobos semua halangan itu. Menjadi yang baik meski tidak yang terbaik. Aku menjalani semua dengan hati. Bukan karena ingin terlihat hebat tapi karena mimpi yang ingin berakhir bahagia. Banyak yang memberiku motivaisi disini. Apalagi saat bertemu dengan seseorang yang mengetuk hatinya. Tapi dia lebih tua 1 tahun darinya. Aku tak pernah mempermasalahkakan usia, saat cinta yan berkutip. Namanya Airin, ia punya hobi yang sama dengan ku. Akhir ini pikirnnya terpenuhi dengan Airin. Aku tidak tahu kenapa semua menjadi seperti ini. Hatinya kini tlah berkobar dalam asanya. Apa mungkin Airin jug meraskan yang sama tanyanya dalam hati. Aku harus bisa menanyakan agar semua tak membayangi mimpiku.
Tak sengaja saat aku dan teman- teman main ke pantai. Aku meihat sosok yang tak asing bagiku. Yahh itu Airin. Aku hanya bisa melihatnya dari jauh menikamti senyumnya yang nampak tulus dan bahagia. Namun ia sedang bersama seorang cowok. Dan itu adalah Arya,kakak kelas anak ipa 1.
“ahhhh sial ternyata ia sudah punya pacar” kataku yang keceplosan.
“ siapa An, yang kamu bilang? Tanya salah satu temannya yang mendengar
“ bukan siapa- siapa” jawabku ketus
Aku hanya bisa memendam dalam perasaanku itu. Memandang jauh ke dalam dasar laut sana. Tiba- tiba sebuah tanggan menyentuh pundaknya.
“ Andri lou disini juga” tanya nya sambil memperlihatkan senyum manisnya
“iya, disini juga” tanya ku walapun aku tau yang sesunguhnya
“ iya tadi suruh nganterin kakaku” ucap Airinya
Hatinya tersentak, jadi yang bersamanya tadi kakaknya Airin. Akhirnya aku masih punya kesempatan tuk mengungkapkan semua prasaanku padanya. Dan dipantai inilah aku berlindung dalam batu dan pasir yang menjadi saksi atas kebahaian ku ini. Tapat di ombak laut selatan aku merasakan hal beda, kebahagian yang ku nanti. Tapi Aku dan Airin selalu memprioritaskan pendidikan. Karena ilum adalah gerbang dari segala kebahagian. Ternyat rencana Tuhan lebih indah dari yang ku kira. Semoga Aku dan Airin bisa meraih kesuksesan masing-masing. Hingga kelak di pesatukan lagi dengan kesempurnaan yang lah ku miliki. Tuhan ku berharap disini, bersama senja yang akan kembali pada peraduan –Mu.
Komentar
Posting Komentar