Cinta Singkat Itu Berakhir di Atas Perjanjian Suci


Bagi banyak orang, untuk melakukan hubungan serius di pelaminan itu membutuhkan waktu yang lama. Bahkan, mereka ada yang kehabisan waktu karena harus mengumpulkan dan sekian untuk bisa melangsungkan pernikahan. Sedangkan bagi saya pribadi tidak seperti itu. Perjalanan cinta untuk menemukan yang terbaik tidak perlu waktu lama begitu juga untuk mengadakan pernikahan tidak perlu budget yang banyak. Ini yang menjadi nilai tersendiri bagi saya pribadi.Tahun 2013 akhir, sekitar bulan September saya memantapkan diri untuk menikah.

Langkah pertama yang saya lakukan adalah mencari sosok yang tepat untuk menjadi istri dan ibu dari anak-anak. Saya tidak memiliki standar tersendiri karena yang terpenting dia cantik, agamanya juga oke dan pastinya dia dari keluarga baik-baik. Selain itu, salah satu kriteria yang saya inginkan adalah dia pintar. Ini karena anak-anak yang pintar lahir dari ibu yang pintar. Saya meyakini hal itu.Awalnya, saya agak kesulitan untuk mencari sosok seperti itu. Tapi, saya meminta bantuan seseorang untuk menemukan kriteria yang tepat. Ya, saya menikah dengan model Ta’aruf sehingga saya sebelumnya benar-benar tidak mengenal calon istri saya.

Hanya berbekal sebuah foto dan beberapa lembar tulisan tentang CV atau biodatanya. Saya merasa tertarik dan begitu juga dirinya ketika melihat foto saya.Setelah itu, ditentukan untuk pertemuan pertama kali.Pertemuan pertama ini disaksikan oleh beberapa orang untuk menghindari fitnah atau sangkaan yang tidak baik. Dalam pertemuan itu, saya hanya melihat satu kali saja. Setelah itu, saya semakin yakin dan mantap untuk melangkah lebih lanjut dengan mendatangi walinya.

Kira-kira satu minggu setelah pertemuan singkat itu (hanya beberapa menit saja), saya menghadiri wali atau orang tuanya di daerah Kroya, Cilacap, Jawa Tengah.Pertemuan dengan orang tuanya juga berjalan singkat.Saya meminta agar minggu depan langsung diadakan khitbah (atau lamaran).Seminggu kemudian, keluarga besar berkumpul di kediaman keluarga besar calon istri. Ada banyak pembahasan dan langsung ditentukan tanggal aqad pernikahan. Waktu itu masih awal bulan Desember 2013 dan disepakati tanggal 2 Januari 2014, saat hari libur tahun baru, ditentukan sebagai aqad pernikahan.Tanggal 2 Januari 2014, menjadi momen bahagia.

Saya sendiri dari awal sudah mengatakan kepada calon mertua bahwa pernikahan tidak perlu mewah, tidak perlu ada video shooting, musik atau biduan yang joget-joget, panggung pengantin atau mempelai dan lain-lain. Jadi, ini lebih tepatnya seperti acara syukuran bukan pernikahan karena tidak ada apa-apa. Ini bertujuan agar saya dan istri termasuk keluarga besar tidak perlu menanggung hutang akibat pengeluaran terlalu besar.Usai acara pernikahan, Alhamdulillah semua selesai dan tidak ada hutang karena memang acara pernikahan sangat sederhana.

Jadi, perjalanan akhir cinta saya untuk menemukan sosok ideal itu tidak lama. Bisa dikatakan mengenal pada bulan September dan menikah pada bulan Januari. Sebenarnya, pernikahan juga ingin dipercepat tapi karena kendala jadwal anggota keluarga, akhirnya diundur hingga awal Januari saat masih suasana libur tahun baru.Perjalanan cinta singkat itu benar-benar membekas di dalam hati kami berdua. Memang, sampai saat ini kami tidak memiliki album foto pernikahan, video maupun lainnya. Tapi kami tidak perlu khawatir karena memori itu akan terus berada di ingatan kami hingga hari esok kelak. Kami berdua sama-sama memahami bahwa waktu yang penting itu bukan pada saat hari pernikahan tetapi hari setelah pernikahan.

Kami menikah dengan sederhana dan budget terbatas sehingga begitu acara selesai kami bisa langsung fokus membangun rumah tangga kami. Beda dengan orang lain, khususnya mereka yang menginginkan pernikahan serba mewah tetapi di luar batas kemampuannya sehingga harus hutang sana sini. Mungkin tamu akan merasa kagum karena mewahnya pesta pernikahan itu. Akan tetapi, jika setelah hari pernikahan mereka terlilit hutang, ini sangat memalukan.Bukan hanya itu, hutang ini bisa mengganggu fokus rumah tangga yang masih seumur jagung. Bagaimana tidak, setelah menikah mereka akan merasa sulit dan harus bekerja ekstra keras untuk melunasi hutang-hutang saat pesta pernikahan. Jadi, bagi saya pribadi tidak perlu melebihi batas kemampuan diri jika pada akhirnya malah menyulitkan diri sendiri.

Komentar