Lomba Blog LPSK: A Memorable Story


Bagaimana perasaan kalian kita memenangkan lomba? Tentu sangat senang dan bangga. Mengikuti suatu lomba jelas merupakan suatu tantangan karena dalam lomba kita harus bersaing dengan orang lain. Apalagi jika tingkatan lombanya cukup tinggi, seperti tingkat kabupaten, provinsi, nasional, bahkan hingga tingkat internasional. Mengikutinya saja sudah menjadi suatu kebanggaan, apalagi jika berhasil menjuarainya, tak peduli juara berapapun itu. Nah, saya sudah pernah merasakan pengalaman mengikuti sekaligus memenangkan lomba (biasanya saya tidak pernah mujur saat lomba ☹).

Dan yang membuat saya semakin bangga, tingkatan lomba itu sudah mencapai tingkat nasional. Lomba apakah itu? Lomba Blog Nasional yang diselenggarakan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).Penyelenggaraan lomba ini dilakukan melalui blog masing-masing peserta. Nantinya, peserta harus mengirim surel (e-mail) yang berisi data diri, lampiran kartu identitas, serta tautan blog yang berisi artikel kita. Sifat lombanya yang daring membuat saya ingin mengikutinya karena tentunya tidak menguras waktu dan tenaga. Selain itu, pembuatan artikelnya tidak mewajibkan referensi ilmiah.

Jadi saya bisa lebih leluasa menyampaikan opini saya hanya berdasarkan logika, tanpa perlu dibebani untuk mencari setumpuk buku tebal sebagai referensi. Setelah yakin, sayapun mulai menyusun ide-ide yang dapat mendukung artikel saya.Tema lomba tersebut adalah “Diam Bukan Pilihan.” Tema tersebut didasari pada kenyataan bahwa banyak sekali kasus besar di Indonesia tidak memperoleh penyelesaian yang memuaskan karena kurangnya kesaksian yang benar. Inti dari artikel yang harus saya buat adalah kita harus berani untuk menyuarakan kebenaran, karena LPSK siap melindungi kita dari segala macam ancaman, baik fisik maupun psikis.

Proses pembuatannya sendiri sempat mandek. Pasalnya, saya mempunyai sifat yang memiliki semangat dan antusiasme tinggi di awal, namun di tengah-tengah acap kali mengalami penurunan semangat.Apalagi, pada waktu itu saya sedang sibuk-sibuknya menempuh pendidikan SMA saya. Alhasil, waktu yang paling pas untuk mengerjakan adalah di akhir pekan.Setelah melalui proses yang cukup panjang, saya berhasil mengumpulkan artikel saya tepat waktu. Selama proses seleksi, saya tidak menunjukkan sikap optimistis yang berlebihan, namun juga tidak pesimis. Ya, biasa-biasa saja. Dan satu hal, saya sama sekali tidak memberitahukan keikutsertaan saya di lomba ini, baik kepada orang tua maupun teman-teman saya.

Alasannya sederhana; saya tidak ingin merasa malu ketika saya gagal, tetapi jika saya berhasil, tentu akan menjadi sebuah kejutan tak terduga. Begitulah prinsip hidup yang saya pegang hingga saat ini: “Bekerjalah dalam diam dan tanpa diketahui siapapun. Biar hasil yang berbicara dan menceritakan semuanya.”Beberapa bulan kemudian, hasil penjurian diumumkan di akun Instagram LPSK. Saya sebetulnya sudah mempersiapkan diri apabila saya kalah. Betapa terkejutnya saya! Saya diundang untuk menghadiri acara penganugerahan. Itu berarti saya menang!

Penganugerahaan akan dilangsungkan di Hotel Sheraton Mustika, Yogyakarta pada 11 November. Saya sangat bangga dan antusias karena saya akan pergi ke Jogja untuk pertama kalinya. Ketika saya memberitahukan hal ini ke orang tua, mereka sempat skeptis. Mereka khawatir saya telah menjadi korban penipuan (agak menyebalkan, hufft!). Namun, setelah saya meyakinkan mereka dan pihak panitia mengonfirmasi langsung, orang tua saya akhirnya percaya dan kemudian turut bangga. Pada tanggal yang ditentukan, sayapun berangkat ke Yogyakarta bersama dengan ayah saya.

Kami tiba di Jogja terlalu cepat, sehingga menunggu sedikit lama. Pada jam yang ditentukan, acara dimulai. Dibuka dengan tarian adat, lalu diselingi dengan stand up comedy dari Butet Kertaradjasa (saya berfoto bersama beliau, lho!!), dan kemudian tibalah di acara puncak, yaitu penganugerahaan. Saat giliran saya dipanggil, saya ternyata mendapat juara 3, lengkap dengan piagam dan sertifikatnya. Sungguh sebuah kebanggaan!Setelah acara selesai, kami di antar ke hotel di Malioboro, makan malam, lalu beristirahat. Keesokan paginya, kami kembali pulang ke Bogor, membawa kebanggaan dan kenangan manis.Intinya teman-teman, yang penting tekunilah hobimu dengan serius. Siapa tahu, itulah jalanmu untuk menuju kesuksesan serta prestasi yang memberi kebanggaan kepada banyak orang. Insya Allah.

Komentar