Berbicara mengenai masalah bullying, saya adalah orang yang bisa dikatakan sangat berpengalaman dalam urusan dunia itu. Saya sudah pernah menjadi dua pihak yang berlawanan, yaitu pelaku dan korban bullying. Jadi, pengalaman saya kali ini akan sangat berwarna karena saya akan memberikan dua sudut pandang mengenai bullying.Ketika saya berada di bangku Sekolah Dasar (SD), saya awalnya adalah anak baik seperti halnya anak-anak lain di SD. Tetapi semua berubah ketika di kelas 4 SD, saya mengenal salah satu teman saya, sebut saja dia “V.” V ini bertubuh jauh lebih besar dan lebih berisi daripada saya (saya berbadan kurus).
Anehnya, meskipun dia adalah laki-laki, tetapi perilakunya justru seperti perempuan. Mungkin kita lebih akrab dengan sebutan ngondek. Pada waktu itu, saya merasa jijik dan malu dengan anak ini. Apalagi, anak ini punya kebiasaan membawa nasi dan mi instan ke sekolah. Itu membuat saya semakin jijik. Saya tidak bisa membayangkan seseorang mengonsumsi begitu banyak mi sepanjang hidupnya.Singkat cerita, saya mulai berlaku sangat tidak baik terhadap anak ini. Saya sering mengejeknya.
Sebutan banci begitu mudah keluar dari mulut saya. Badannya yang tambun tak lepas dari pukulan-pukulan yang dengan gemas saya lepaskan ke arahnya (saya bersyukur orang tuanya tidak pernah melaporkan saya atas tuduhan penganiayaan). Saya pernah membuang plastik makanannya ke tempat sampah. Dan semua tindakan itu, saya lakukan hampir setiap hari!! Ya, kalian tidak salah dengar. Saya sudah dua kali didatangi orang tuanya ke sekolah dan dimarahi di depan umum. Tapi apa saya jera? Tidak! Saya justru semakin bersemangat untuk mem-bully dia. Caci maki dan pukulan tidak serta merta berhenti, meski seiring berjalannya waktu, kebencian saya terhadap dia semakin berkurang.
Mungkin kalian berpikir, “Kenapa saya harus repot-repot mengurusi hidup orang lain? Mau dia ngondek, atau makan mi instan setiap hari sepanjang hidupnya sampai ususnya terburai, apa urusanmu? Uruslah dirimu sendiri!!” Ya, saya baru menyadari hal tersebut beberapa tahun belakangan. Tetapi pada masa itu, saya seolah-olah dilingkupi kegelapan. Sebagai pelaku bullying sendiri, saya beranggapan bahwa orang harus sesuai dengan ekspektasi saya. Dan mungkin beberapa pembelaan naif lainnya, seperti, “Saya melakukan ini untuk kebaikan dia juga. Nanti dia sendiri yang rugi kalau menolak mendengarkan saya.”
Singkatnya, pelaku bullying itu tak ubahnya akun gosip di Instagram yang hobi sekali ikut campur terhadap urusan orang lain, bahkan walaupun ia sama sekali tidak ada kaitan dengan orang tersebut. Dan itu terjadi karena pada dasarnya orang tersebut tidak memperoleh pengakuan, sehingga ia mencari “panggung” sendiri, walaupun itu berarti dia harus menghancurkan hidup orang lain. Saya sendiri pada waktu itu sebenarnya tak lebih dari seorang anak cengeng yang mudah sekali menangis hanya karena dibentak sedikit.
Pun si “V” ini bukannya tak punya kelebihan. Dia sangat energik, percaya diri, dan cerdas dalam hal Matematika. Sampai di sini, saya sama sekali tidak merasa bullying adalah salah besar. Namun, “Tangan Tuhan menghajar saya untuk menyelamatkan saya”, demikian saya akan mengatakannya.
Kerasnya tangan Tuhan itu saya rasakan ketika memasuki SMP. Di sini, seolah-olah hidup saya berputar 180 derajat. Saya tidak memiliki banyak teman, tidak terlalu popular, dan bahkan tidak punya harga diri. Saya yang pernah mempermalukan orang di depan umum, gantian dipermalukan orang lain. Saya yang sering melakukan kekerasan fisik, mulai mendapat kekerasan fisik. Ya, saya telah “menuai apa yang saya tabur”.
Untuk beberapa waktu, saya mulai merasa Tuhan tidak adil terhadap saya. Tuhan kejam, Tuhan meninggalkan saya, demikian saya berpikir pada waktu itu. Di saat itulah saya sadar bahwa apa yang saya lakukan selama 3 tahun sebelumnya adalah kesalahan besar. Saya telah menghancurkan hidup saya dengan nilai-nilai yang kerdil dan tidak berguna dan menghancurkan hidup orang lain dengan perlakuan kejam saya. Sampai SMP pun, ketika “V” ini bertemu dengan saya di tempat les, dia selalu menjauhi saya. Entah karena dia masih trauma atau malah dia membenci saya, saya tidak tahu.
Dia mungkin tidak mengetahui apa yang telah saya lalui, dan bagaimana itu menyadarkan saya dari kesalahan dan kebodohan masa lalu saya. Singkatnya, saya berhenti menyalahkan siapapun, menerima apa yang telah terjadi pada saya, sekaligus menatap ke depan dengan penuh rasa syukur karena Tuhan telah menyadarkan saya sebelum semuanya terlambat.Ketika di SMA, saya berhenti untuk melihat orang secara negatif. Saya mulai memandang bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan, dan untuk menjalin relasi yang positif dan kuat, diperlukan sikap saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Tuhan pelan-pelan memperbaiki perilaku dan juga keadaan lingkungan saya. Saya dipertemukan dengan teman-teman yang baik dan sangat mendukung satu sama lain. Kami berada dalam satu kelas selama 3 tahun, sehingga hubungan kami sudah seperti keluarga. Saya mendapat cukup banyak apresiasi, pengakuan, dan cinta dari teman-teman saya. Sekali saya menjadi wakil ketua kelas dan sekali pula saya menjadi ketua kelas. Di luar kelas, sayapun berusaha menjalin relasi dengan teman-teman yang lain. Saya mengikuti organisasi Majelis Permusyawaratan Kelas (MPK) dan mampu menjadi salah satu komisionernya.
Saya mengembangkan bakat saya di bidang tarik suara, dan dipercayakan tanggung jawab sebagai wakil ketua Paduan Suara. Singkatnya hidup saya berubah total dan saya menjadi mampu lebih menghargai perbedaan setiap pribadi.Bagaimanapun, bullying adalah sebuah fenomena yang cukup memprihatinkan di kalangan remaja, meski tak menutup kemungkinan bullying juga terjadi di luar kalangan remaja. Apalahi, seiring berkembangnya teknologi, muncul bentuk bullying yang baru, yaitu cyber-bullying.
Efek bullying bagi korban sangat beragam, mulai dari merasa rendah, kehilangan kepercayaan diri, pemurung, takut masuk sekolah, antisosial, kecenderungan untuk mengasihani diri, hingga depresi berkepanjangan dan berujung tindakan bunuh diri atau sikap pendendam. Kita tentu ingat bagaimana film Unfriended (2015) dan beberapa film lain telah memberi gambaran ekstrem dari efek bullying. Pelaku bullying yang tidak bertobat dari perbuatannya dapat mengakibatkan adanya sikap egois, narsistik, hingga berujung pada perbuatan kriminal.
Ada beberapa solusi yang saya tawarkan untuk memutus mata rantai bullying ini. Dari pengalaman saya, hal terpenting adalah mengajarkan pada setiap anak untuk memperlakukan orang lain sebagaimana dia ingin diperlakukan. Kalau tidak ingin dipukul, ya jangan memukul. Kalau tidak ingin di-bully ya jangan mem-bully. Sesederhana itu, tetapi seringkali hal ini luput dari pengajaran orang tua.Hal lain yang dapat kita lakukan adalah memberikan kasih sayang kepada pelaku, karena mungkin saja perilaku bullying disebabkan oleh kurangnya kasih sayang dan perhatian yang ia peroleh dari keluarga dan lingkungan.
Bagi korban bullying, perlu dilakukan pendampingan. Entah oleh pihak sekolah, tokoh agama/masyarakat, hingga psikolog. Tujuannya supaya korban tetap memiliki kepercayaan dan harga diri. Korban juga harus diajari untuk berani melawan bullying dan melaporkannya kepada sekolah dan bahkan pihak berwajib apabila perilaku korban sudah memasuki ranah kriminal.Perilaku bullying sangat mengerikan, namun bukan mustahil dihentikan. Selama kita menyadari bahwa kita membutuhkan orang lain dan kita pasti berkolaborasi dengan mereka, kita akan lebih menghargai keberadaan mereka. Jadi, teman-teman mulai dari sekarang, mari hargai sesama dan stop bullying demi masa depan yang lebih baik.

Komentar
Posting Komentar